Pernah kah Anda berada dalam situasi, ketika
seseorang mengatakan sesuatu yang membuat Anda marah atau sangat
terganggu? Tetapi Anda berpikir, bahwa meladeni orang tersebut tidaklah
perlu, dan Anda diam saja sambil menarik nafas panjang saja serta secara
tidak sadar juga menggeretakkan gigi Anda. Itu namanya Anda sedang
MEMENDAM PERASAAN. Yaa, Anda berusaha memendam perasaan Anda sebenarnya,
meskipun itu membuat dada, ulu hati dan lambung Anda terasa sesak…mau
pecah saja layaknya…hehehe…
Kebanyakan orang menganggap sikap Anda itu
merupakan cara terbaik untuk menghindari terjadinya konflik…agar
semuanya baik-baik saja, menjaga situasi aman terkendali… hahaha, kok
seperti mau lebaran aja ya. Menurut Anda, apakah menyimpan rasa marah, dongkol itu bisa menyelesaikan masalah Anda, konflik Anda? Tentu saja TIDAK. Mungkin itu hanya terkesan penyelesaian SEMU saja, karena tidak terjadi konflik pada saat itu.
Nah, apa yang akan terjadi pada Anda, jika suatu
saat situasi semacam ini terus berkembang? Saya yakin, bahwa suatu saat
perasaan sebenarnya akan mencuat keluar, jika Anda tidak merespons dan
tetap terus memendam perasaan itu di dalam pikiran dan hati Anda. Dan,
akibatnya bisa diduga, perasaan-perasaan itu akan muncul dalam kehidupan
Anda berupa ketegangan, kekhawatiran, stres, sakit perut, pusing,
sulit tidur, diare, nyeri punggung, sering kencing, makan berlebihan
atau sebaliknya malas makan, bahkan bisa sampai menyebabkan depresi
kejiwaan…atau hanya sekedar muncul bisulan atau jerawatan…hwekekekek…
Yang jelas, jika Anda tetap memendam perasaan berkecamuk di dalam diri
Anda sendiri, maka pasti akan muncul aneka gangguan fisik pada diri
Anda.
Sebenarnya, Anda bisa saja menghentikan kebiasaan
memendam perasaan semacam itu. Caranya adalah Anda harus berusaha
merespons perasaan Anda itu. Maksudnya, Anda harus mau mengekspresikan
apa yang Anda rasakan, kapan pun situasi itu terjadi. Ini tidak berarti
bahwa Anda harus mengungkapkan dengan cara yang agresif dan
terang-terangan; melainkan Anda bisa menyampaikannya dengan kata-kata
langsung dan jelas dengan bijak, sehingga apa yang sebenarnya Anda
rasakan bisa terungkap.
Sangat penting bagi Anda untuk bisa mengungkapkan semua perasaan yang telah Anda pendam. Mungkin ini bagi sebagian orang masih merupakan hal yang dianggap TABU dan terkesan konfrontatif.
Inilah kehidupan saat ini. Anda akan mengetahui betapa sebenarnya mudah
saja dalam menjalani kehidupan, jika Anda sanggup mengungkapkan
perasaan-perasaan Anda. Anda jelas menjadi lebih sehat dan semangat
karena Anda berhasil merespons perasaan Anda sendiri dengan sangat
jujur…dan tidak tetap memendamnya.
Berkaitan dengan itu, maka semestinya Anda memberikan isyarat yang jelas dan langsung agar orang lain mengetahui bagaimana Anda ingin diperlakukan. Anda
harus menentukan batasan-batasan yang jelas dalam hidup Anda, sehingga
Anda memiliki pertahanan diri untuk mencegah orang lain mencampuri
kehidupan pribadi Anda. Jika Anda tidak membuat
batasan-batasan, maka nantinya Anda akan bingung sendiri bagaimana
mengatur waktu dan berbagai aspek kehidupan Anda lainnya…termasuk Anda
akan sulit mengatur keuangan Anda.
Anda perlu menyadari bahwa identitas diri Anda
dibangun berdasarkan pilihan-pilihan Anda sendiri dengan menetapkan
batasan-batasan Anda dengan lingkungan di luar Anda. Batasan yang telah
Anda tentukan ini adalah titik wilayah orang lain berakhir dan wilayah
kekuasaan Anda dimulai. Jadi batasan-batasan ini merupakan garis wilayah
pribadi yang memisahkan diri kita dengan orang lain.
Jika orang tidak memiliki garis batas wilayah
pribadinya, maka orang ini akan tidak bisa mengatakan TIDAK dalam segala
hal. Akibatnya, orang lain akan bisa memanfaatkan dia selama 24 sehari
dalam kondisi apa pun! Mungkin saja batin orang semacam ini menderita,
tetapi mereka ini tetap tidak bisa berkata TIDAK, jika diminta untuk
melakukan sesuatu.
Mereka yang tidak menentukan batasan wilayah
pribadinya ini sering merasa benci kepada dirinya sendiri, karena
menerima permintaaan orang lain, padahal mereka tidak memiliki waktu
lagi. Mereka ini juga sering merasa bersalah, dan malu karena bersedia
melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak bisa mereka tangani.
Oleh sebab itu, hal pertama yang harus Anda lakukan
jika ingin menentukan batasan wilayah pribadi Anda adalah dengan
menghentikan kebiasaan menerima terlalu banyak tanggung jawab untuk
menyelesaikan tugas-tugas, kewajiban, dan kebutuhan orang lain…karena
memang setiap orang selalu mempunyai kebutuhan!
Jika ada orang meminta Anda untuk melakukan
sesuatu, periksalah lebih dulu tingkat kesediaan Anda. Kalau Anda merasa
tidak nyaman dan enggan melakukannya, maka katakan saja, “Terima
kasih atas kepercayaannya, tetapi mohon maaf saya tidak bisa
mendukungnya, saya sedang ada hal lainnya yang harus saya lakukan
segera.” Saya pikir dengan cara ini, orang lain akan memahami
kebutuhan Anda, dan ini sebuah cara yang sopan menolak dengan halus,
daripada Anda hanya berkata, “Tidak!” Setelah berkata menolak dengan
sopan tadi, diamlah dengan tetap tersenyum. Jangan memberikan penjelasan
lainnya. Kemudian lihatlah, orang yang minta bantuan Anda akan terlihat
memaklumi keadaan Anda, dan bisa menerima keputusan Anda dengan baik.
Begitu pula sebaliknya. Kita juga harus mau dan sanggup mengatakan YA,
pada situasi yang memungkinkan kita memberi kesempatan kepada orang
lain untuk membantu kita. Coba amati sekitar Anda. Anda akan melihat
contohnya, yaitu ada sebagian orang yang selalu bersedia membantu orang
lain bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.
Tetapi giliran mereka membutuhkan pertolongan, eeh…
mereka lebih memilih diam saja dengan beban pikiran penderitaannya,
alias lebih suka menderita sendirian daripada meminta orang lain agar
membantunya. Jika ditanya, “Adakah masalah?” Selalu dijawab, “Ah nggak kok, kami baik-baik saja.” Padahal
saat itu kondisinya sudah kritis sekali. Saya juga tidak tahu alasannya
tidak minta bantuan orang lain. Apakah itu alasan gengsi, takut
ditolak, atau khawatir menyusahkan orang lainnya?
Apa pun alasannya, maka mereka ini termasuk orang
yang tidak bisa berkata YA. Jika Anda berada dalam posisi yang
sebenarnya harus dibantu orang lain, tetapi karena alasan tertentu Anda
tidak mau meminta pertolongan. Dan Anda lebih senang menangani
permasalahan Anda dengan mengerjakannya sendiri saja; serta tidak
mengizinkan orang lain membantu Anda, maka itu sebenarnya Anda telah
MERAMPAS kesempatan dan kepuasan orang lain untuk terlibat dalam
kegiatan membantu Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar